Tema dan Loga Hari Lingkungan Hidup 2013

Senin, 27 Mei 20130 komentar

Dalam rangka membantu mesosialisasikan Tema dan Loga Hari Lingkungan Hidup 2013 berikut ini di sampaikan logo dan tulisan yang saya copy paste dari website Kementerian Lingkungan Hidup (KLH), semoga bermanfaat.


Ubah Perilaku dan Pola Konsumsi untuk Selamatkan Lingkungan

(Tema Hari Lingkungan Hidup 2013)

Di saat Planet bumi kita berjuang menyediakan sumberdaya (tanah, air, pangan, energi, dll)  untuk mempertahankan 7 miliar penduduknya, pada saat bersamaan setiap tahunnya  1/3  dari pangan yang diproduksi di dunia  – sekitar 1,3 miliar ton – terbuang dan menjadi limbah! Fantastis!  Inilah ironi dari sebuah peradaban manusia dimana limbah makanan menjadi salah satu kontributor terbesar dampak lingkungan. Maka bayangkan ketika planet yang kita tempati ini enggan menyediakan lagi sumberdayanya. Apa pula yang akan terjadi?

1,3 miliar ton limbah makanan tersebut,  negara-negara industri menyumbang limbah makanan sebesar 670 juta ton setiap tahunnya, yang jika dikonversikan ke dalam nilai uang setara dengan 680 miliar Dolar AS. Adapun  negara-negara berkembang menyumbang limbah makanan sekitar 630 juta ton setiap tahunnya, atau setara dengan 310 miliar Dolar AS.

Fakta lain, penduduk di negara-negara kaya memiliki kebiasaan  membuang-buang makanan secara berlebihan dengan jumlah mencapai 222 juta ton per tahun. Jumlah tersebut adalah hampir sama dengan produksi pangan sub-Sahara Afrika  dengan total 230 juta ton.

Persoalan Lingkungan memang tidak dapat dilihat sebagai suatu persoalan yang berdiri sendiri, melainkan sangat terkait dengan perilaku manusia,terutama dalam memenuhi kebutuhannya.

Perubahan perilaku melalui gaya hidup telah mengubah pola ekstraksi sumberdaya alam dan energi yang ada. Manusia didorong untuk menggunakan sumberdaya alam secara berlebih dan tidak berkelanjutan.

Mengingat besarnya ketidakseimbangan gaya hidup masyarakat di negara kaya dengan negara berkembang serta akibat yang sangat buruk dari limbah makanan yang dihasilkan terhadap lingkungan, maka dalam rangka memperingati Hari Lingkungan Hidup SeDunia 2013 (World Environment Day 2013), UNEP bekerjasama dengan FAO (Food & Agriculture Organization)  tahun 2013 ini mengangkat tema:

Tema ini secara harfiah mengajak seluruh penduduk dunia untuk mengubah gaya hidup membuang-buang makanan.  Mengajak berpikir kembali sebelum membuang makanan karena hakekatnya makanan untuk dimakan/di konsumsi atau disimpan. Mengapa harus dilimbahkan?

Adapun tujuan dari tema “Think – Eat – Save” adalah mengajak penduduk dunia – termasuk anda – agar lebih sadar atas dampak lingkungan dari kebiasaan membuang-buang makanan dan lebih kritis serta bijak memilih makanan, karena bagaimanapun hal ini berkait dengan kemampuan alam menyediakannya untuk manusia.

HARI LINGKUNGAN HIDUP DI INDONESIA

Indeks Perilaku Peduli Lingkungan yang dikembangkan Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) menunjukkan bahwa angka 0,57 (angka mutlak adalah 1), mengindikasikan bahwa masyarakat kita belum berperilaku peduli lingkungan dalam kehidupan sehari-harinya.

Perilaku konsumsi masyarakat juga terus meningkat. Sekitar 49,3% makanan didatangkan dari luar daerah dan import. Kondisi ini tentunya akan memberikan dampak bagi lingkungan seperti meningkatnya emisi gas carbon dan metana dari buangan alat transportasi.

Menyambut Hari Lingkungan Hidup seDunia 2013, KLH  secara khusus menyikapi tema yang dihadirkan  UNEP dengan tema dan logo yang sejalan dengan “Think – Eat – Save”.

Dengan logo memvisualkan daun hijau sebagai simbolisasi dari tujuan kelestarian alam, serta simbolisasi kontra-produktif berupa visual makanan yang ditumpahkan dari piring ke dalam bak sampah, serta bunyi tema “Ubah Perilaku dan Pola Konsumsi untuk Selamatkan Lingkungan”, dimaksudkan memberi gambaran yang mudah serta membuka kesadaran masyarakat atas pentingnya mengubah perilaku dan pola makan.
Masalah limbah makanan adalah masalah yang terjadi di seluruh negara, baik negara maju, negara industri maupun negara berkembang.

Kita yang hidup di negeri Indonesia sesungguhnya amat sangat bersyukur, karena alam Indonesia jauh lebih mampu “memanjakan” warganya dengan jenis bahan makanan yang banyak dibandingkan alam di belahan  benua lainnya.

Daratan, lautan serta iklim Indonesia sangat mendukung tersedianya segala jenis bahan makanan untuk konsumsi manusia, mulai dari aneka bahan makanan pokok, sayuran dan buah-buahan yang banyak jumlahnya, serta sangat kondusif untuk berkembang biaknya aneka jenis ternak dan hewan peliharaan. Laut Indonesia yang luas pun menyediakan banyak sekali ikan dan sumber makanan lainnya, jauh melebih negeri-negeri lain.

Pertanyaannya adalah, akankah kita menghargai pemberian alam dengan sikap dan pola konsumsi berorientasi pada kelestarian lingkungan? Atau hanya akan menjadi pengikut dari bangsa lain yang memiliki kebiasaan membuang-buang makanan?

Konsumsi masyarakat dalam kurun waktu satu (1) bulan sekali, mengkonsumsi ayam mencapai 91%, ini lebih besar dibandingkan konsumsi daging merah yang hanya 77%. Sementara itu dalam mengkonsumsi produk yang dihasilkan daerahnya sendiri berupa umbi-umbian lokal tercatat 36,4%. Sisa sampah organik terutama makanan hanya 2,2% yang dikomposkan, selebihnya dibuang dan menjadi beban lingkungan yang terus bertambah.

Pada bidang pertanian, terjadinya limbah akan selalu terjadi sejak awal proses. Dan semua ini membawa pengaruh pada munculnya emisi gas rumah kaca.

Pada sektor produksi pertanian, limbah makanan akan mulai muncul  sejak proses panen dimulai sampai dengan proses pendistribusian, pemasaran dan berlanjut lagi pada saat sampai ditangan anda sebagai konsumen, pada proses pengolahan serta makanan tak termakan. Ini semua adalah jejak makanan (food print).

Maka adalah bijak jika kita mampu mengurangi jejak makanan pada setiap prosesnya masing-masing. Misal, memasak makanan secukupnya tanpa berlebih, membeli bahan makanan sewaktu (mudah busuk) tanpa berlebih, termasuk juga merawat makanan yang sudah terbuka dari kemasannya agar tidak mudah rusak.

Pada akhirnya, Kementerian Lingkungan Hidup mengajak semua pihak untuk mengubah perilaku dan pola konsumsi untuk menjaga kelestarian lingkungan. Ini adalah tanggungjawab bersama masyarakat Indonesia. Semakin anda tahu tentang informasi makanan, semakin bijak anda memilih makanan yang dapat mengurangi dampak lingkungan.

MANFAAT

  • Lebih bijak menyikapi akan makanan.
  • Mengurangi timbulnya limbah bahan makanan untuk kepentingan kelestarian alam.
  • Penghematan.
  • Meminimalkan dampak lingkungan sejak proses produksi sampai ke konsumen.
  • Mengurangi limbah makanan untuk menciptakan masa depan yang berkelanjutan.

 


HIMBAUAN

Pilihlah makanan yang memiliki dampak lingkungan rendah/ ramah lingkungan. Prioritaskan memilih makanan dari sumber lokal dibandingkan makanan yang didatangkan dari tempat jauh. Makanan yang dihadirkan dari tempat jauh akan menimbulkan lebih banyak jejak makanan (food Print) seperti halnya emisi gas karbon dan lebih banyak energi terpakai yang digunakan untuk pengiriman. Olah makanan sesuai kebutuhan tanpa harus berlebih karena melebih-lebihkan sama dengan pemborosan energi dan memperbanyak potensi makanan menjadi limbah.

Pikirkan kembali sebelum Anda makan dan bantulah untuk selamatkan lingkungan kita!

Sumber : http://www.menlh.go.id/pekan-lingkungan-hidup-2013/ 

Tulisan lainnya : Pekan Lingkungan Indonesia Tahun 2013
Share this article :

Poskan Komentar

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Prolingkungan - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger